Senin, 8 Agustus 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Masjid Raya Bandung, Riwayatmu...

Ulama 'Mahiwal' Itu Mengantar Jenazah Putranya dengan Orkes Keroncong

Selasa, 29 Maret 2022
Dok.MRB
DI era tahun 1930-an, Masjid Raya Bandung tak hanya disesaki orang-orang yang hendak shalat atau wiridan, tapi juga dipenuhi orang-orang yang hendak berdiskusi soal agama.*

MasjidRaya.com - Dalam perjalanan sejarah yang hampir dua abad, Masjid Raya Bandung pernah mengalami masa keemasan, yakni pada tahun 1910 sampai tahun 1950-an. Pada kurun waktu itu, Masjid Raya Bandung tak hanya disesaki orang-orang yang hendak shalat atau wiridan, tapi juga dipenuhi orang-orang yang hendak berdiskusi soal agama.

Hampir setiap sore dan malam di masjid ini digelar diskusi agama yang melibatkan para ulama, santri, dan masyarakat umum.

Kejadian ini memang di luar kebiasaan. Pada awal abad ke 20, memperdebatkan urusan agama hampir tidak pernah terjadi. Kebiasaan berdebat ini dipelopori oleh ulama besar, filsuf Islam, mistikus dan juga sastrawan Sunda termashur, Haji Hasan Mustapa, yang saat itu menjabat sebagai Hoofd Penghulu Bandung.

Kuncen Bandung Haryoto Kunto dalam bukunya "Ramadhan di Priangan" mencatat kenyentrikan Haji Hasan Mustapa. Tatkala Toha Firdaus, putra Haji Hasan Mustapa meninggal dunia, upacara pemakaman tidak dilakukan dengan cara yang lazim pada saat itu. Haji Hasan Mustapa melarang para pengantar dan pelayat untuk mengaji, bertahlil, atau membaca doa-doa. Setelah dishalatkan di Masjid Raya Bandung, saat menuju pemakaman jenazah Toha malah diiringi dengan orkes keroncong. Hal itu dilakukan karena Toha adalah seniman keroncong.

Melihat hal ini, otomatis para pelayat yang kebanyakan ulama dan santri itu kaget dan akhirnya menimbulkan perdebatan. Tapi setelah dijelaskan oleh sang penghulu, para pendebat pun hanya manggut-manggut.

Melihat perilakunya yang aneh-aneh itu para ulama dan santri di Bandung menyebutnya sebagai ulama mahiwal (berlainan dari yang umum).

Kebiasaan Haji Hasan Mustapa yang nyentrik ini menghasilkan banyak manfaat. Ia lakukan hal demikian untuk memancing sifat kritis para santri dan masyarakat Bandung dalam soal agama. Dan memang berhasil. Sejak saat itu, para santri dan masyarakat di sekitar Bandung tidak ragu-ragu lagi untuk bertanya dan berdebat soal agama.* abu ainun - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR