Rabu, 28 September 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Masjid Raya Bandung, Riwayatmu...

Nikah di Bale Nyungcung, Maskawin "Khomsa" Rupiah

Sabtu, 26 Maret 2022
Istimewa

MasjidRaya.com - Bagi sebagian kecil masyarakat Bandung, masa keemasan Bale Nyungcung pada periode pasca kemerdekaan sampai akhir tahun 1950-an mungkin merupakan nostalgia yang tidak akan pernah terlupakan. Pada masa itu, kurang afdol rasanya bagi orang tua, apabila tidak menikahkan anak-anaknya di Bale Nyungcung.

Seperti pernah dituturkan salahsatu pelaku sejarah di masa keemasan Bale Nyungcung, yaitu almarhum H.M. Nuhiya dan istrinya almarhumah Rd. Hj. Oemas Subhiyasih yang masih keponakan langsung dari Dalem Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah.

H.M. Nuhiya pertama kali masuk ke Masjid Agung tanggal 1 Juni 1946. Pada saat itu, penghulunya adalah Rd. H.M. Kurdi dan naib kota Rd. H.M. Said. Pada 1 Januari 1947, pria kelahiran 2 Desember 1923 ini menikah, sekaligus diangkat sebagai khatib kota. Dengan demikian ia berhak untuk menikahkan pasangan pengantin di Bale Nyungcung.

Pada masa itu yang menjadi khalifahnya yaitu H.M. Dahlan dan ajunnya Rd. H.M. Rapi'i. Yang berhak menikahkan adalah khatib, khalifah dan naib. Sejak masa penjajahan Belanda sampai tahun 1950-an, masyarakat mulai dari Dayeuh Kolot, Cilampeni, Margahayu, Batujajar, Lembang, Cicaheum, Ujungberung, semuanya sengaja ingin menikah di Bale Nyungcung.

Rombongan pengantin berbondong-bondong menyusuri jalanan menuju Alun-alun Bandung dengan menggunakan delman. Bisa dibayangkan meriahnya suasana di sekitar kawasan Alun-alun saat itu. Satu pasangan saja rata-rata membawa rombongan 20 iring-iringan delman. Jalanan di sekitar Jl. Dalem Kaum, ABC, Asia-Afrika, Kepatihan dan Otista dipenuhi ratusan delman dan masyarakat yang ingin menonton.
Dalam satu hari H.M. Nuhiya bisa menikahkan 30 sampai 40 pasangan pengantin. Menginjak bulan Rayagung, jumlah calon pengantin melonjak sampai 75 pasangan dalam satu hari. Biasanya upacara akan berlangsung sejak pukul 07.00 sampai pukul 14.00 siang. Berbagai bentuk kegembiraan diluapkan masyarakat melalui saweran bagi pengantin yang baru keluar dari dalam Masjid Agung.

Hampir setiap hari kawasan Alun-alun Bandung menjadi ajang hiburan bagi masyarakat. Dari halaman belakang masjid, anak-anak selalu ribut untuk bergantian memanjat pohon dan 'noong', saat ijab kabul yang memang tertutup dan umum dilarang ikut masuk. Yang ada di dalam hanya khatib, wali, saksi dan pasangan pengantin. Saksi pada saat itu selalu tetap yaitu H. Maftuh dan Rd. Widjaya.

Biaya nikah pada saat itu hanya Rp 2,-. Yang paling menarik adalah maskawinnya. Mulai dari kalangan bawah sampai atas, hampir seluruhnya memberikan maskawin berupa uang Rp 5,- (khomsa rupiah). Bagi kalangan mampu, maskawin dibayar tunai, sedangkan bagi yang belum mampu bisa 'ngahutang heula'. Saya terima nikahnya si anu dengan maskawin Rp 5 tunai!, atau saya terima nikahnya si anu dengan maskawin Rp 5 dihutang! Begitulah kira-kira gambaran penyerahan maskawin saat itu.

Ada juga hari-hari yang bisa dibilang ramai pengantin, yaitu pada hari Senin dan Sabtu. Pada masa sekarang, orang justru menikah pada hari Minggu. Kalau dulu, hari Minggu malah tidak ada yang menikah di Bale Nyungcung. Yang ada hanya pernikahan di rumah, dengan memanggil khatib/penghulu ke rumah. Istilahnya disebut bedolan. Tapi pasangan menikah secara bedolan inipun tidak terlampau banyak, paling hanya 2 atau 3 pasangan saja.* ainun - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR