Rabu, 28 September 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Salman Al-Farisi (2)

Saksi Kebesaran Allah

Rabu, 23 Maret 2022

MasjidRaya.com - Perang khandaq (parit) mempunyai arti penting dalam perjalanan kehidupan Salman Al-Farisi. Bukan hanya karena perang tersebut merupakan perang pertama Salman Al-Farisi, tetapi juga karena pada perang itu dirinya menjadi penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan ghaib tentang kebesaran Islam.

Ketika tentara Quraisy, Ghathfan, dan Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang Kota Madinah, kaum muslimin menyadari bahwa keadaan mereka sangat tidak seimbang dengan tentara penyerang. Kondisi itu membuat mereka panik, seperti dilukiskan dalam Al-Quran surat Al Ahzab ayat 10, “Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah.”

Saat kebingungan menyergap kaum muslimim, tampillah Salman yang menyarankan untuk menggali khandaq atau parit pelindung sepanjang daerah terbuka sekeliling kota. Saat menggali parit, tembilang Salman dan kawan-kawannya terbentur pada sebuah batu besar. Salman yang mempunyai perawakan kukuh dan bertenaga besar, tak mampu memecahkan batu tersebut. Akhirnya ditemuinya Rasulullah SAW untuk meminta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar itu.

Rasulullah pun pergi melihat batu besar yang diceritakan Salman. Setelah menyaksikan batu itu, Rasulullah meminta tembilang dan menyuruh para sahabatnya mundur dan menghindari pecahan batu. Rasulullah lalu membaca bismillah dan mengangkat kedua tangannya kemudian menghujamkan tembilang ke batu besar itu. Batu terbelah dan dari celahnya yang besar keluar lambaian api yang tinggi, sehingga menerangi pinggiran Kota Madinah.

Rasulullah SAW mengucap takbir dan bersabda, “Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Parsi, dan dari lambaian api tadi tampak olehku dengan nyata istana-istana kerjaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu”. Di samping Rasulullah, Salman menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah dan petunjuk Allah. Salman dan kaum muslimin yang ada di sekitar Rasululllah, sambil mengucapkan la ilaha ilallah denga penuh keimanan serfentak berseru, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”.

Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan beriman kepadanya, Salman hidup sebagai seorang muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Dalam kecerdasan, kesahajaan, dan kebebasannya dari pengaruh dunia, Salman adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Rasulullah sering memuji kecerdasan Salman serta ketinggian ilmunya, sebagai mana beliau memuji agama dan budi pekertinya yang luhur.

Pribadinya tersebut menyebabkan di saat perang khandaq, Salman menjadi rebutan kaum Anshar dan Muhajirin yang sama-sama mengatakan bahwa Salman berasal dari kaumnya. Untuk menengahinya, Rasulullah bersabda, “Salman adalah golongan kami, ahlul Bait”. Dan memang selayaknya Salman mendapat kehormatan seperti itu. Dalam kalbu para sahabat, pribadi Salman telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasululllah” - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR