Minggu, 26 Juni 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Khutbah Idul Adha 1438 H di Masjid Raya Bandung

Idul Adha: Peningkatan Ketakwaan, Kepedulian Sosial, Persaudaraan, dan Persatuan

Jumat, 1 September 2017
Khatib: Prof. Dr. KH. Rahmat Syafe'i, Lc, MA

MRB - Puji syukur, penghormatan, kesucian, dan segala keagungan kita serahkan kepada Allah Rabbul ‘Izzati. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi dan Rasul Muhammad Saw. kepada keluarganya, para sahabatnya, serta kepada seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Selanjutnya marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah Swt dan dengarlah firman-firman-Nya agar kita semua mendapatkan petunjuk dan kasih sayang-Nya.

Pada hari ini, kita semua duduk bersimpuh merendah tawadlu dan khusyu beribadat kepada Allah Swt. Kita semua menyadari sepenuhnya pada posisi diri sebagai hamba Allah yang lemah, yang tidak bisa lepas dari godaan dan dosa sekiranya kita tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah swt (melihat burhana rabbihi; QS.12:24). Oleh karena itu, kita akan senantiasa haus akan rahmat, keridlaan, dan ampunan Allah swt yang Maha Ghafur.

Kita duduk berkumpul bukan sekadar tradisi dan merenungi sejarah pengorbanan manusia, Ibrahim AS, Ismail AS, dan Siti Hajar RA, tetapi lebih daripada itu, adalah untuk ibadah. Allah Swt berfirman:

Sungguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt), sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah swt (QS. Al-Kautsar: 1-2)

Bagi kita kaum muslimin, hari ini adalah hari besar Islam yang bernilai internasional. Hari raya ini menyimpan banyak hikmah untuk diaktualisasikan dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan. Semestinya setiap orang muslim mengerti bahwa hari raya ini mengandung esensi yang harus dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu esensi ibadah haji dan ibadah qurban.

Esensi dari kedua ibadah tersebut kalau kita renungkan sangat banyak. Marilah kita hayati beberapa bagian yang sangat sesuai dengan kondisi kita dewasa ini.

Pertama: ibadah haji dan kurban mengandung nilai penghambaan haqiqi, yakni keimanan, ketakwaan kepada Allah swt, kepedulian sosial, persaudaraan, dan persatuan.

Mari kita simak kata-kata yang dikumandangkan oleh saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji di Mekah dan sekitarnya, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad Saw:

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Engkau tidak bersekutu. Aku sambut panggilan-Mu, sesungguhnya puji dan nikmat, dan segenap kekuasaan serta kerajaan sejati adalah hanya kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu ya Allah. (H.R Bukhari)

Demikianlah kita memahami ibadah haji itu, ialah ibadah yang melambangkan ketauhidan, ketaatan, ketakwaan, dan kepatuhan memenuhi panggilan Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa raga. Begitu pula ibadah qurban, mengandung nilai penghambaan yang sangat tinggi kepada Sang Pencipta.

Qurban disyari’atkan oleh Allah Swt. melalui proses sejarah yang panjang, sejak Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Ismail AS. (QS. al-Shaffat (37): 102-107), bahkan sejak Nabi Adam AS. (QS. al-Maidah: 27)

Dalam surat al-Shaffat ayat 102-107 diceritakan, bahwa Nabi Ibrahim AS. diuji oleh Allah Swt untuk membuktikan ketaatan kepada-Nya dengan ujian di luar kemampuan akal biasa, dan tentunya sangat berat. Bayangkan, dia harus mengorbankan putra tersayangnya. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt, mereka mampu menyelesaikan ujian itu dengan sabar dan tawakal.

Perintah tersebut sama sekali tidak bermaksud membunuh Ismail, tetapi semata-mata untuk menguji sampai di mana ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pada perintah Tuhan. Ternyata keduanya menerima ujian tersebut dengan senang hati, bahkan Ismail secara berani mengingatkan ayahnya yang ragu dalam melaksanakan perintah Allah, padahal perintah tersebut meminta agar mengorbankan dirinya.

Ke dua, ibadah haji dan kurban akan mengembalikan fitrah kemanusiaan kita dan menyadarkan kita sebagai makhluk sosial yang senantiasa memerlukan bantuan orang lain.

Ibadah kurban yang diperintahkan Islam tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sesama umat manusia di sekeliling kita, tetapi peristiwa yang dialami Ibrahim tersebut hendaknya menyadarkan kita bahwa yang dikorbankan itu tidak boleh manusia tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, semacam rakus, ambisi yang tidak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum serta norma-norma apa pun. Sifat-sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh, ditiadakan, dan dijadikan korban demi tercapainya ibadah kurban atau kedekatan diri kepada Allah. Itulah sebabnya Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an (al-Hajj: 37) :

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Dengan demikian, penyembelihan hewan kurban mempunyai makna bahwa dalam diri kita terdapat sifat-sifat hewani yang harus kita kuasai agar tampil kehidupan yang suci dan murni.

Di antara sifat hewani yang selalu melekat di dalam diri kita adalah sifat egois. Padahal kalau kita berpikir bisakah seseorang melaksanakan sesuatu, ibadah haji misalnya sendirian tanpa bantuan orang lain, atau bisakah kita melaksanakan ibadah kurban tanpa bantuan peternak umpamanya, dsb.

Kita semestinya menyadari bahwa kehidupan kita bergantung kepada masyarakat sekeliling kita. Sebagai masyarakat kita wajib mengabdi untuk kepentingan masyarakat itu. Derajat kita selain ditentukan oleh kedekatan kepada Allah Swt, ditentukan oleh akhlak kita kepada sesama manusia. Sikap merasa benar sendiri, menganggap rendah orang lain, sangat tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Nabi diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.

Jiwa peduli terhadap sesama yang dilatih oleh Allah Swt., dalam ibadah qurban mengandung faedah sangat banyak. Tidak heran kalau dalam ajaran Islam, kepekaan dan kepedulian sosial itu merupakan tema pokok al-Qur’an.

Sehubungan pentingnya solidaritas dan kepedulian sosial, Islam memandang orang yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli terhadap fakir miskin dianggap orang yang mendustakan agama. Solidaritas dan kepedulian sosial ini bisa pula diwujudkan dengan memelihara persaudaraan dan persatuan.

Ibadah haji dan qurban mengisyaratkan bahwa manusia, khususnya umat Islam, harus lebih memperat ukhuwwah (persaudaraan dan persatuan) dengan sesama umat Islam di mana saja mereka berada, untuk mencapai kejayaan Islam, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya hubungan antara sesama muslim.

Di antara upaya Islam untuk menjaga tetap eratnya ukhuwwah (persaudaraan) adalah:
1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah (konsep pemimpin). Manusia diangkat oleh Allah Swt. sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaan-Nya. Karena itu, Nabi Muhammad Saw., melarang memetik bunga sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad Saw., juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tidak bernyawa.

2. Untuk mewujudkan persaudaraan antar pemeluk agama, Islam memperkenalkan konsep “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. 42: 15); Maka tidak perlu ada pertengkaran di antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lainnya, karena hanya kepada Allah-lah tempat kembali segala putusan (QS., 42: 15); Islam menganjurkan untuk mencari titik singgung di antara pemeluk agama, dan mengajak mereka untuk mengikuti kebenaran. Jika tidak bisa, tidak perlu untuk saling menyalahkan dan memaksa mereka, tapi cukup menyatakan: “Saksikanlah (akuilah esksistensi kami) bahwa kami adalah orang-orang muslim” (QS., 3: 64); Jalinan persaudaraan antara seorang muslim dengan penganut agama lain tidaklah dilarang dalam Islam selama pihak lain menghormati hak-hak kaum muslim (QS, 60: 8); Para sahabat pernah ditegur al-Qur’an ketika mereka memutuskan pemberian bantuan kepada penganut agama lain (QS, 2: 272)., dan banyak lagi aturan Islam lainnya yang menyuruh umat Islam untuk menghormati penganut agama lain.

3. Untuk memantapkan persatuan dan persaudaraan antara sesama kaum muslim, Islam memerintahkan kepada semua kaum muslim untuk menjauhkan penyakit hati, seperti iri, dengki yang menyebabkan keretakan di antara mereka. Selain itu, dilarang saling memperolok antar sesama muslim, saling menjelekkan, dan lain-lain. Mereka yang melakukan perbuatan seperti itu diharuskan untuk segera bertaubat (QS., 49: 11); Umat Islam dilarang berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing ( QS., 49: 12); dan berbagai sifat tercela lainnya yang hanya akan merugikan dirinya dan mengakibatkan perpecahan di antara sesama umat Islam. Seperti halnya yang terjadi belakangan ini di media, khususnya media sosial.

Hari Raya Idul Adha mengingatkan kepada umat Islam, bahwa kesejahteraan dalam Islam bukanlah milik golongan tertentu, tetapi miliki semua umat Islam, bahkan semua makhluk hidup. Tidak heran jika Islam memerintahkan umatnya yang berkecukupan untuk membantu saudaranya yang lain, agar merasakan kesejahteraan yang belum pernah dialaminya. Itulah salah satu tujuan disyari’atkannya penyembelihan Qurban.

Rasa sejahteralah sebenarnya yang merupakan benteng utama untuk menghindari perpecahan dan berbagai penyakit sosial yang ada di masyarakat. Dalam hal ini, kepekaan para pemimpin dan para wakil rakyat sangat dibutuhkan untuk menyejahterakan mereka. Memperbaiki kesejahteraan merupakan salah satu di antara tiga cara untuk memperbaiki keadaan masyarakat, sebagai diungkapkan oleh al-Mawardi, yakni: Menjadikan manusia taat; menyatukan rasa sosial yang merata, dalam hal kesenangan dan penderitaan, serta menjaga dari hal-hal yang akan mengganggu stabilitas kehidupan.

Semua itu tidak mungkin tercapai jika dalam pengaturannya masih membeda-bedakan baju atau golongan.

Prinsip yang harus tetap dipegang erat-erat adalah: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS. al-Hujurat: 10). Jiwa dan nilai dari keadaan tersebut hendaknya terus dijaga sepanjang masa. Persamaan akidah dan agama hendaknya membangkitkan perasaan untuk saling membagi kenikmatan di antara sesama kaum mukmin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits:

“Anda akan melihat kaum mukminin dalam kasih sayang, cinta menyintai dan pergaulan mereka bagaikan satu badan. Jika satu anggotanya sakit, maka menjalar kepada anggota lainnya, sehingga terasa demam dan tidak dapat tidur” (HR. Bukhari).

Hadits tersebut menggambarkan bagaimana hakikat hubungan antara sesama kaum muslimin begitu eratnya menurut Islam, sehingga hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta, dan pergaulan diibaratkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan dan merasakan. Demikian juga, Nabi SAW mengingatkan, bahwa untuk memperoleh kasih sayang Allah, harus menyayangi di antara kita.

Sayangilah apa yang ada di muka bumi, maka pasti apa yang di langit (Allah swt) menyayangi kamu.

Keadaan seperti itu telah dicontohkan oleh kaum mukminin pada masa kepemimpinan Rasulullah Saw., di Madinah, ketika Rasulullah Saw. dengan para sahabat sudah hijrah ke Madinah, kaum Anshar menyediakan berbabagai keperluan kaum muhajirin, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Digambarkan dalam al-Qur’an; Dan mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka, walaupun diri mereka sendiri kekurangan. (QS. al-Hasyr: 9)

Pada hari ini, marilah kita merenung dan bermuhasabah tentang berbagai hal yang menimpa kepada kita semua, bangsa Indonesa. Berbagai kegaduhan datang silih berganti seakan tiada henti dan tidak kunjung selesai. Mungkin bisa jadi benar bahwa kegaduhan yang menimpa bangsa Indonesia sekarang ini bukan lagi cobaan, melainkan sudah hampir berupa azab dari Allah Swt. Hal itu, barangkali kurang menjaga hubungan baik antara kita, persaudaraan, persatuan, dan kepedulian sosial. Sebagaimana pepatah menyatakan, al-Ittihad Asasun najah (persatuan pangkal kesuksesan).

Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu dan bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau aqidah. Persamaan aqidah dimaksud adalah dalam arti sebenarnya, lahir batin, bukan hanya label atau pengakuan. Jika tidak demikian, tidak mungkin mampu mempersatukan dan mengembalikan kejayaan kembali umat Islam seperti pada masa pendahulu Islam.

Namun demikian, tidak berarti bahwa umat Islam dilarang untuk berhubungan dan bersahabat dengan umat selain Islam. Sebaliknya umat Islam pun dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka yang berbeda bangsa dan berbeda agama. Pada dasarnya semua manusia itu berasal dari bapak yang sama, yakni Adam.

Dijelaskan dalam al-Qur’an: Manusia adalah ummat (bangsa) yang satu, lalu diutus oleh Allah, nabi-nabi yang menjadi pembawa berita gembira dan menyampaikan peringatan. Diturunkan-Nya bersama mereka (nabi-nabi tersebut) kitab yang mengandung kebenaran, supaya dia memberikan keputusan antara sesama manusia dalam persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan (al-Baqarah: 213).

Dewasa ini kita hidup di zaman teknologi informasi dan digital. Hampir semua orang memiliki handphone. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi di tengah masyarakat. Kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi melalui media digital berbasis media sosial dapat mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia, seperti mempererat tali silaturahim, untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kegiatan positif lainnya. Sebaliknya terdapat pula mafsadatnya.

Penggunaan media digital, khususnya yang berbasis media sosial di tengah masyarakat seringkali tidak disertai dengan tanggung jawab sehingga tidak jarang menjadi sarana untuk penyebaran informasi yang tidak benar, hoax¸ fitnah, ghibah, namimah, gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmoni sosial. Pengguna media sosial seringkali menerima dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar serta bermanfaat, bisa karena sengaja atau ketidaktahuan, yang bisa menimbulkan mafsadah di tengah masyarakat. Banyak pihak yang menjadikan konten media digital yang berisi hoax, fitnah, ghibah, namimah, desas-desus, kabar bohong, ujaran kebencian, aib dan kejelekan seseorang, informasi pribadi yang diumbar ke publik, dan hal-hal lain sejenis sebagai sarana memperoleh simpati, lahan pekerjaan, sarana provokasi, agitasi, dan sarana mencari keuntungan politik serta ekonomi.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Nabi memperingatkan pada suatu masa dunia itu ada “di tangan” maka perlu dihindari mafsadatnya. Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an dan Hadits yang harus dijadikan pedoman dalam penggunaan IT. Di antaranya firman Allah SWT yang memerintahkan pentingnya tabayyun (klarifikasi) ketika memperoleh informasi (QS Al-Hujurat: 6). Firman Allah SWT yang melarang untuk menyebarkan praduga dan kecurigaan, mencari keburukan orang, serta menggunjing. Mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya.

“Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar” (QS. An-Nur: 16). Islam juga melarang menyebarkan berita bohong dan keji. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. (QS. An-Nur: 19).

Semoga kita semua dijadikan oleh Allah Swt. menjadi orang yang senantiasa saling menyayangi, mau dan berusaha untuk mempererat persaudaraan dan persatuan, serta menjadi hamba Allah yang mau menolong sesama hamba Allah lainnya, menghindari penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian sehingga menjadi orang yang benar-benar bertakwa yang merupakan pesan moral dari Idul Adha ini.***

Prof. Dr. KH. Rachmat Syafe’i, Lc., MA adalah Ketua MUI Jawa Barat dan Imam Besar Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. Disampaikan pada Khutbah Idul Adha 1438 H/1 September 2017 di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR