Senin, 8 Agustus 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Abu Dzar Al-Ghifari (3)

Pedang Kebenaran Islam

Sabtu, 8 Juli 2017

MRB - Sepanjang hayatnya, dengan sekuat tenaga Abu Dzar memikul panji contoh utama Rasulullah dan kedua sahabatnya, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sikapnya inilah yang menyebabkan Abu Dzar menjadi maha guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Abu Dzar telah menjadi seorang pahlawan yang tidak menginginkan sesuatu tujuan duniawi. Suaranya selalu menyuarakan ucapan benar dan kata-kata tegas. Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaganya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala godaan kehidupan dunia. Ia menghabiskan sisa umurnya untuk “menjaga” sahabat-sahabatnya yang memikul panji-panji Islam, supaya tidak seorang pun menjadi pengumpul harta. Abu Dzar berkeinginan, mereka menjadi pelopor kepada hidayah Allah dan pengabdi bagi-Nya.

Abu Dzar selalu berusaha untuk mengingatkan sahabat-sahabatnya akan pesan Rasulullah tentang daya tarik jabatan dan harta, “…ia merupakan amanat, dan di hari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan…, kecuali orang yang mengambilnya secara benar dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya…”

Menurut pria suku Ghifar ini, harta dan kekuasaan mempunyai pengaruh menentukan terhadap nasib manusia. Oleh sebab itu, setiap kebobrokan yang menimpa amanat tentang kejadian dan kekuasaan dalam soal harta, akan menimbulkan bahaya hebat yang harus segera disingkirkan.

Itulah sebabnya, hidupnya dibaktiokan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan pengumpulan harta. Tidak salah kalu Imam Ali mengatakan, “Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar…”. Hal itu, karena dalam hidupnya Abu Dzar selalu mencoba menjalani wasiat atau nasihat Rasulullah SAW.

“Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara. Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. Disuruhnya aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan bukan kepada oprang yang di atasku…Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain…Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim…Disuruhnya aku mengatakan yang hak walaupun pahit…Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut celaan orang. Dan disuruhnya aku memperbanyak menyebut, “Laa haula walaa quwwata illa billah”.

Sampai akhir hidupnya, wasiat dari Rasulullah selalu dipegang dan dijalankannya. Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah, seperti kata Rasulullah, dia wafat sebatangkara, setelah sebatangkara pula ia menempuh hidup yang luar biasa, yang tak seorang pun dapat menyamainya.

Abu Dzar merupakan contoh orang yang menyampaikan kebenaran lewat kata-katanya, bukan lewat kekerasan. Seperti sabda Rasulullah, “Takkan pernah lagi dijumpainya di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar…”* abu ainun/”Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR