Senin, 8 Agustus 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Abu Dzar Al-Ghifari (2)

Si Pemberani yang Bersahaja

Jumat, 7 Juli 2017

MRB - Abu Dzar Al-Ghifari masuk agama Islam pada saat agama ini baru lahir sehingga syiar masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena agama ini belum saatnya disebarkan secara terang-terangan, oleh Rasulullah SAW, Abu Dzar diperintahkan untuk pulang kepada keluarga dan kaumnya, sampai didengarnya nanti Islam lahir secara terang-terangan.

Abu Dzar menuruti perintah Rasulullah, menemui keluarga dan kaumnya. Kepada mereka, Abu Dzar menceritakan tentang Nabi yang baru diutus Allah, yang menyeru agar mengabdi kepada Allah YME dan membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Kepada kaumnya, Abu Dzar mencoba memancarkan cahaya Islam, sehingga satu persatu kaumnya masuk Islam. Bahkan orang-orang dari suku lain seperti suku Aslam pun tertarik dengan agama Islam yang diperkenalkannya.

Keberhasilan Abu Dzar dalam menyebarkan agama Islam, dapat dilihat saat dirinya membawa orang-orang dari kaumnya, suku Ghifar dan dari suku lainnya, yaitu suku Aslam mendatangi Rasulullah di Madinah. Saat itu, suara takbir dan bunyi bergemuruh terdengar dari pinggiran Kota Madinah yang berasal dari barisan panjang yang terdiri dari para pengendara dan pejalan kaki. Rombongan itu sangat besar, sehingga dalam perjalanannya meninggalkan kepulan debu di belakangnya.

Dari pinggiran kota, rombongan masuk ke dalam kota dan dengan langkah pasti menuju Masjid Rasulullah dan tempat kediamannya. Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, dan anak-anak tersebut, Rasulullah sangat takjub dan kagum. Rasulullah semakin takjub dan kagum setelah mengetahui bahwa mereka adalah rombongan suku Ghifar dan suku Aslam yang telah masuk Islam dan dibawa oleh Abu Dzar.

Abu Dzar merupakan sahabat Rasulullah yang mempunyai prinsip hidup, “kebenaran yang disertai keberanian”. Pria ini akan menjalani hidupnya secara benar, tidak akan melakukan kekeliruan. Baginya, benar bathinnya maka benar pula lahirnya, benar aqidahnya maka benar pula ucapannya. kebenaran menurutnya, bukanlah keutamaan yang bisu, karena kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran. Bagi Abu Dzar, yang dikatakan benar adalah, menyatakan secara terbuka dan terus terang apa yang hak dan menentang yang bathil serta menyokong yang betul dan meniadakan yang salah.

Karena prinsip hidup yang dimiliki Abu Dzar itulah, Rasulullah mengatakan soal sahabatnya ini, “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. Abu Dzar akan terus memperjuangkan kebenaran dengan berbagai cara.

Saat Rasulullah melarangnya menggunakan ketajaman pedangnya untuk menegakkan kebenaran, maka dipilihnya cara lain, yaitu dengan ketajaman lidahnya. Cara yang dipilih Abu Dzar ini merupakan buah dari latihan yang diberikan Rasulullah, karena dalam setiap kesempatan Rasulullah selalu mengingatkan Abu Dzar untuk bersabar. Maklum saja, sahabat Rasulullah yang satu ini terkenal sangat radikal dan revolusioner, sehingga perlu selalu diingatkan supaya tidak terburu nafsu.* abu ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah" - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR