Senin, 8 Agustus 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Abu Dzar Al-Ghifari (1)

Si Pemberani Melawan Kebathilan

Kamis, 6 Juli 2017

MRB - Pengamatannya sangat tajam tentang kebenaran dan keberaniannya melawan kebathilan sangat menakjubkan. Demikian Rasulullah SAW menggambarkan sosok seorang sahabatnya, Abu Dzar Al-Ghifari yang berasal dari suku Ghifar, suku yang selalu menjadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan luar biasa, karena kemampuan mereka menempuh jarak.

Abu Dzar Al-Ghifari yang nama aslinya Jundub bin Janadah adalah sahabat Rasullullah yang masuk Islam saat agama ini baru lahir. Keislaman Abu Dzar termasuk dalam barisan terdepan, urutannya di kalangan muslimin adalah yang kelima atau keenam. Saat itu Rasulullah masih menyampaikan dakwah secara berbisik-bisik. Dibisikkannya kepada Abu Dzar dan kepada lima orang lainnya yang telah iman kepadanya.

Perjalanan Abu Dzar menjadi seorang muslimin diawali dari pengamatannya yang tajam tentang kebenaran dan menentang kebathilan . Menempuh perjalanan panjang, akhirnya Abu Dzar bertemu Rasulullah dan menyatakan keinginannya masuk agama Islam. Saat Abu Dzar mengatakan niatnya masuk agama Islam, Rasululllah sangat kagum dengan keinginannya itu.

Di saat agama Islam baru saja lahir dan berjalan sembunyi-sembunyi, ada di antara orang Ghifar sengaja datang untuk masuk Islam. “Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang disukainya,” demikian sabda Rasulullah saat menerima Abu Dzar ke dalam Islam.

Setelah membaca syahadat, keimanannya kepada Allah SWT semakin besar dan keinginannya untuk menyebarkan agama Allah ini semakin tak terbendung. Sayangnya, saat itu agama Islam masih disebarkan secara sembunyi-sembunyi. Melihat masyarakat sekitarnya memuja berhala, sementara dirinya harus memendam keimanan di dalam dada, pria pemberani ini tak kuat menahan keinginannya untuk mengumandangkan agama Islam.

“Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid,” begitu tekadnya.

Tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan sekeras-kerasnya menyerukan suaranya, “Asyhadu alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy.

Kenekadan Abu Dzar dibayar dengan kemarahan orang-orang musyrik yang mengepung dan memukulnya hingga tak sadarkan diri. Penganiayaan yang dialaminya sama sekali tidak membuat Abu Dzar menutup mulut meneriakkan kebenaran, justru sebaliknya hal ini dirasakannya sebagai manisnya penderitaan dalam membela agama Islam.

Kerja keras Abu Dzar dalam memancarkan cahaya Islam membuahkan hasil, tidak hanya kaumnya yang satu persatu masuk Islam, namun orang-orang dari suku Aslam pun satu persatu menyatakan diri masuk Islam.

Benar apa yang disampaikan Rasulullah SAW, Allah menunjuk siapa yang Ia kehendaki dan Abu Dzar salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk, orang yang dipilihNya mendapat kebaikan.* abu ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah" - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR