Minggu, 22 Mei 2022 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Masjid Raya Bandung, Riwayatmu...

Ginding di Hari yang Fitri, Ngagimbung di Alun-alun

Jumat, 23 Juni 2017

MRB - Atmosfer yang dirasakan dalam menyambut hari raya Idul Fitri, baik di masa lalu maupun di masa sekarang sebenarnya tidak jauh berbeda. Selalu identik dengan baju baru, murak makanan lebaran, dan bagi-bagi THR untuk anak-anak.

Pada masa tahun empat puluhan --seperti pernah dituturkan salah satu pelaku sejarah di masa keemasan Bale Nyungcung, almarhum HM. Nuhiya, beberapa tahun lalu-- Alun-alun dan Masjid Agung Bandung menjadi pangjugjugan. Semua orang dari berbagai pelosok Bandung Raya sengaja datang dan berkumpul di sekitar Alun-alun dan Masjid Agung.

"Kalau sekarang mah mungkin seperti orang yang berlebaran di Derenten (maksudnya Kebun Binatang Bandung). Mani ngarebu. Kabeh oge, utamana barudak mani garinding," ujar HM. Nuhiya ketika itu.

Masyarakat dari hampir semua penjuru, baik dari kota maupun dari pinggiran, semua ngaraleut ka Alun-alun Bale Nyungcung. Apalagi ketika selesai Shalat Ied, banyak pejabat tinggi pemerintahan yang shalat di Masjid Agung, sekalian bersilaturahmi dan berlebaran bersama rekan sejawat sekaligus masyarakat umum lainnya.

Setelah Shalat Ied selesai, umat kembali dulu ke kediaman masing-masing, bersimpuh di hadapan orang tua dan sanak saudara, lalu menikmati ketupat, opor ayam. Baru setelah acara di rumah selesai, berbondong-bondong mereka menebar kegembiraan di Alun-alun yang sudah penuh oleh oleh masa dan pedagang makanan/minuman.

Dengan pakaian baru atau pakaian terbaik yang dipunyai mereka, mulailah anak-anak bergembira menikmati hari yang fitri itu. Sementara orang tuanya merayakan hari kemenangan mereka dengan duduk-duduk sambil ngobrol bersama teman dan saudara, atau ngaborong jajanan yang tidak bisa mereka nikmati selama sebulan berpuasa.

Sementara yang remaja pun tidak kalah gaya dengan adik-adik mereka. Bahkan terkadang di sinilah si jajaka dan si mojang bertemu dengan jodohnya. Pokoknya semua tumpah ruah di kawasan ini hingga menjelang sore.

Dari suasana lebaran yang dirasakan oleh orang-orang seperti HM Nuhiya dan para sepuh yang sejaman dengannya, ada yang tak hilang ditelan waktu, yaitu rasa ukhuwah islamiyah yang kuat sekali di antara mereka. Tidak ada lagi batasan antar golongan maupun strata sosial, semuanya bersatu untuk merayakan kemenangan di hari yang fitri.* abu ainun - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR